Jamaah Muhajirin Sambut Positif Ishlah NW
Islahnya dua NW, Anjani dan Pancor bukan hanya menjadi kabar gembira bagi jamaah NW tetapi juga bagi jamaah Pondok Pesantren Darul Muhajirin, Praya, Lombok Tengah. “Begitu mendengar kabar bersatunya NW, jamaah Muhajirin mengucapkan syukur. Banyak juga jamaah yang menangis”, kata ketua Dewan Pembina Yayasan Ponpes Darul Muhajirin TGH Junaidi Najmuddin pada Lombok Post di kediamannya di Ampenan, kemarin.
Walau secara struktur, ponpes yang berpusat di Praya ini tidak ada hubungan dengan NW namun secara kultural antara NW dan Muhajirin tidak bisa di lepaskan. Dulu, dua ponpes ini dalam satu payung. “Nama Muhajirin itu juga merupakan pemberian dari Maulanasyekh (TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid, pendiri NW)”, ujarnya.
Orang tua tokoh pendiri Muhajirin, TGH Makmun merupakan kawan hidup Maulanasyekh. Dulu ketika kakek dari TGH Junaidi ini masih hidup, dia meminta agar jamaahnya mengaji di Pancor. Termasuk cucunya, TGH Junaidi, pendidikanya di gembleng di Ponpes NW di Pancor. Bahkan pria yang kini menjadi kepala Inspektorat Propinsi NTB ini menjadi salah seorang kepercayaan Maulanasyekh.
“Dulu saya di panggil Maulanasyekh dengan sebutan Juned. Kalau beliau pergi mengaji, saya membawakan sajadah beliau. Ketika sudah remaja saya jadi tukang foto setiap kegiatan beliau”, kenangnya. Kenangan lama bersama Maulanasyekh inilah yang membuat putera TGH Najmudin Praya ini terharu ketika mendengar bersatunya NW.
Masalah yang pernah mendera organisasi terbesar di NTB ini merupakan kenangan pahit. Kini, setelah islah, NW kedepan, kata TGH Junaidi akan terus melebarkan sayapnya di NTB. “Doa Maulanasyekh dulu adalah kibarkan NW di seluruh alam. Kini setelah puluhan tahun lalu, doa itu terwujud. Banyak generasi NW yang sekarang menjadi pemimpin di NTB”, ujarnya.
Sebagai abituren (alumni) NW, TGH Junaidi akan terus meneruskan perjuangan yang pernah diajarkan Maulanasyekh. Tak mesti lewat jalur menjadi pengurus NW, lewat lembaga pendidikan Darul Muhajirin juga merupakan bentuk perjuangan. Sebagai abituren, pendidikan NW masih terus mengalir di darahnya. “Kita hanya beda struktur, kalau sacara kultural kita sama (NW dan Darul Muhajirin)”, ujarnya.
Di sisi lain TGH Junaidi mengakui politik yang berkembang di Loteng saat ini memang ada salah seorang anggota keluarga besar pendiri Ponpes Muhajirin yang ikut maju sebagai wakil bupati, Bajuri yang berpasangan dengan HL. Wiratmaja. Tapi secara pribadi TGH Junaidi pernah bertemu dengan TGH. L. Gde Sakti, cucu Maulanasyekh yang mencalonkan diri sebagai bupati. Pada kondisi seperti ini katanya, para jamaah memiliki keputusan politik masing-masing. “Dengan Gde Sakti saya sudah bertemu dan juga pernah mendorong dia untuk maju sebagai calon bupati”, ujarnya.
Namun yang terpenting dalam islah NW, bersatunya kembali silaturrahmi yang lama terputus. Terkait dengan wacana penggabungan organisasi NW, TGH Junaidi berpendapat itu terlalu dini untuk di bicarakan. “Yang penting tali silaturrahmi terjalin kembali”, ujarnya. (fat)
Sumber : Lombok Post hari Sabtu tanggal 15 Mei 2010



Visitors :10805 Org
Hits : 89793 hits
Month : 591 Users