headerphoto

TGH. M. Najmuddin Makmun dan Tarekat

Selain merintis lembaga pendidikan agama dan umum, TGH. M. Najmuddin Makmun juga meneruskan jejak ayahandanya, TGH. Makmun bin Abdul Wahid Karang Lebah dalam mengajarkan tarekat. Tarekat yang diajarkan beliau dan TGH. Makmun adalah Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN). Keberad aan pengajian TQN di Pondok Pesantren Darul Muhajirin Praya bertujuan memberikan jalan masyarakat umum agar tidak tergelincir kepada dunia tarekat yang dipandang sesat.

Tarekat Qadirriyah Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat paling besar di Indonesia dan juga di Lombok. Tarekat ini merupakan paduan antara Tarekat Qadiriyah yang dinisbatkan kepada Sulthonul 'Auliya Syeikh Abdul Qadir Jaelani dan Tarekat Naqsyabandiyah yang dinisbatkan pada Syeikh Baha'uddin an-Naqsyabandi. Adapun Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah sendiri disebarkan oleh Syeikh Ahmad Khatib as-Sambasi.  Tarekat Naqsyabandiyah  pada zaman Belanda , menjadi motor penggerak aksi pemberontakan terhadap pendudukan kolonial Belanda di beberapa daerah seperti di Banten tahun 1888, pemberontakan di Sidoarjo tahun 1903, dan perang anti Bali di Lombok tahun 1894 (Martin Van Bruinessen:1994).

Sejarah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang dipimpin oleh TGH. Najmuddin Makmun tidak bisa dilepaskan dari figur ayahanda beliau yaitu Almarhum TGH. Makmun Karang Lebah.  TGH. Makmun merupakan guru tarekat yang masyhur di Praya. Sejak beliau tiada, pengajaran tarekat di Karang Lebah dihidupkan oleh TGH. Najmuddin Makmun yang telah mendapatkan ijazah tarekat dari ayahandanya sendiri dan pernah juga berguru langsung pada Syeikh Idris Banten saat di Mekkah. Di Karang Lebah, Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dibesarkan pula oleh Almarhum TGH. Muhsin Makmun yang tak lain adalah kakak kandung TGH. Najmuddin Makmun. Pengajaran tarekat oleh TGH. Muhsin Makmun kini diteruskan oleh putra beliau TGH. Izzi Muhsin, pengasuh Pondok Pesantren Sa'adatuddarain Wakan Praya.

Tarekat yang dibawa TGH. M. Najmuddin Makmun memiliki mata rantai yang sama dengan tarekat yang diajarkan Almarhum TGH. Abhar di Darul Falah Pagutan, meskipun dari jalur yang berbeda, dan kemudian bertemu pada nama Syaikh Abdul Karim Banten (Ahmad Amir Aziz:2005). Silsilah tarekat yang diterima TGH Najmuddin adalah sebagai berikut: TGH. Najmuddin, Syaikh Makmun bin Abdil Wahid Karang Lebah Praya, Syaikh Muhammad Shiddiq Karangkelok Ampenan, al-Syaikh Abdul Karim Banten, Syaikh Ahmad Khatib Sambas Kalimantan, Syaikh Syamsuddin, Syaikh Muhammad Murad, Syaikh Abdil Fattah, Syaikh Utsman, Syaikh Abdirrahim, Syaikh Abi Bakar, Syaikh Yahya, Syaikh Hisamuddin, Syaikh Waliyuddin, Syaikh Nuruddin, Syaikh Syarafuddin, Syaikh Syamsuddin, Syaikh Muhammad al-Hattak, Syaikh Abdul Aziz, Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy, Syaikh Abu Said Makhzumi, Syaikh Abu Hasan Ali alHakkariy, Syaikh Abu al-Farj Tharthusiy, Syaikh Abdul Wahid al-Tamimiy, Syaikh Abu Bakar Syibliy, Syaikh Abu Qasim Junaid al- Baghdadiy, Syaikh Sirriy al-Saqathiy, Syaikh Makruf al-Karkhiy, Syaikh Abu al-Hasan Ali bin Musa al-Ridha, Syaikh Musa al-Kazhimiy, Syaikh Imam Ja’far al-Shadiq, Syaikh Muhammad al-Baqir, Syaikh al-Imam Zainal Abidin, Syaikh al-Syahid al-Husain, al-Syaikh al-Imam Saiyyidina Ali, Sayyid al-Mursalin Sayyidina Muhammad SAW.

Penganut Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah selain diajarkan mendekatkan diri pada Allah sebagaimana ajaran yang diterimanya dari guru, juga berkewajiban tetap menjalin hubungan sosial dengan masyarakat sekitar. Sehingga penganut ajaran tarekat ini tidak diperkenankan untuk bersikap ekslusif atau menutup diri terhadap pergaulan masyarakat. Salah satu bentuk sikap inklusifitas Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah adalah sebagaimana yang dilakukan TGH. M. Najmuddin Makmun dengan menggelar pengajian-pengajian umum baik yang dilakukan di dalam lingkungan Pondok Pesantren Darul Muhajirin, maupun di kampung-kampung luar. Untuk itu, beliau dibantu oleh beberapa tuan guru seperti  TGH. L. Sam’an, TGH. Ahmad Ibrahim, Drs. TGH. Najamudin Ibrahim, TGH. Mukti Ali, TGH. Ishak, TGH. Akhyar Saliki, TGH. Muslim Thahir, Drs. TGH. Usman Najmuddin, dan Ust. Abdul Bari Najmuddin, M.Ag.

Penyelenggaraan pengajian umum di tengah-tengah masyarakat seperti dicontohkan TGH. M. Najmuddin Makmun dilaksakan di beberapa desa. Di desa-desa tersebut kemudian dibentuk forum silaturahmi yang disebut sebagai Majlis Ta'lim Darul Muhajirin. Hingga saat  ini jumlah majlis ta'lim yang  berafiliasi  ke Darul Muhajirin diperkirakan mencapai jumlah 300-an. Melalui forum majlis ta'lim itulah, kedekatan antara Tuan Guru dengan masyarakat umum terjalin.