Profil TGH. M. Najmuddin Makmun
MASA KECIL
NAMA aslinya Ma'arif. Beliau dilahirkan di kampung Karang Lebah Praya pada tahun 1920 M. Ayahnya bernama Tuan Guru Haji Ma'mun (wafat 1947) putera dari Abdul Wahid bin Abdul Karim. Tuan Guru Ma'mun adalah salah seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah pada masanya. Silsilah thariqahnya diterima langsung dari guru utamanya, Tuan Guru Haji Muhammad Shidiq Karangkelok. Tuan Guru Ma'mun baru menyatakan dirinya sanggup sebagai guru thariqah setelah empat puluh kali diminta oleh gurunya untuk mengajarkan kepada orang lain. Pada kali pertama diminta beliau merasa dirinya belum pantas menjadi guru thariqah. Lalu beliau mohon maaf kepada gurunya untuk tidak dijadikan sebagai guru thariqah, karena masih banyak orang yang alim dan lebih pantas daripada dirinya. Alasan ini diterima oleh gurunya namun pada kesempatan yang lain sang guru memintanya lagi untuk mengajarkan thariqah. Tetapi Tuan Guru Ma'mun tetap menyatakan dirinya tidak sanggup untuk hal itu. Begitulah permintaan sang guru serta jawaban sang murid sampai tiga puluh sembilan kali. Akhirnya pada kesempatan keempat puluh, Tuan Guru Shidiq sendiri datang menemui Tuan Guru Ma' mun ke Karanglebah pada malam hari. Tuan Guru Shidiq mengatakan : "Saya ini sudah tua rasanya hidup ini tidak akan lama lagi untuk itu permintaan saya yang terakhir ini jangan sampai tidak diterima … ". Barulah Tuan Guru Ma'mun menyatakan kesiapan sebagai guru thariqah penerus dari Tuan Guru Shidiq Karangkelok. Dan selang beberapa tahun kemudian meninggallah Tuan Guru Shidiq. Sebelum mengajarkan thariqah, sejak zaman penjajahan Belanda di Lombok, Tuan Guru Ma'mun selalu mengajarkan Al- Quran di setiap pagi sampai akhir hayatnya. Jumlah muridnya yang tinggal di asrama (kerbung) pada waktu itu mencapai dua ratus lima puluh orang.
NAMA aslinya Ma'arif. Beliau dilahirkan di kampung Karang Lebah Praya pada tahun 1920 M. Ayahnya bernama Tuan Guru Haji Ma'mun (wafat 1947) putera dari Abdul Wahid bin Abdul Karim. Tuan Guru Ma'mun adalah salah seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah pada masanya. Silsilah thariqahnya diterima langsung dari guru utamanya, Tuan Guru Haji Muhammad Shidiq Karangkelok. Tuan Guru Ma'mun baru menyatakan dirinya sanggup sebagai guru thariqah setelah empat puluh kali diminta oleh gurunya untuk mengajarkan kepada orang lain. Pada kali pertama diminta beliau merasa dirinya belum pantas menjadi guru thariqah. Lalu beliau mohon maaf kepada gurunya untuk tidak dijadikan sebagai guru thariqah, karena masih banyak orang yang alim dan lebih pantas daripada dirinya. Alasan ini diterima oleh gurunya namun pada kesempatan yang lain sang guru memintanya lagi untuk mengajarkan thariqah. Tetapi Tuan Guru Ma'mun tetap menyatakan dirinya tidak sanggup untuk hal itu. Begitulah permintaan sang guru serta jawaban sang murid sampai tiga puluh sembilan kali. Akhirnya pada kesempatan keempat puluh, Tuan Guru Shidiq sendiri datang menemui Tuan Guru Ma' mun ke Karanglebah pada malam hari. Tuan Guru Shidiq mengatakan : "Saya ini sudah tua rasanya hidup ini tidak akan lama lagi untuk itu permintaan saya yang terakhir ini jangan sampai tidak diterima … ". Barulah Tuan Guru Ma'mun menyatakan kesiapan sebagai guru thariqah penerus dari Tuan Guru Shidiq Karangkelok. Dan selang beberapa tahun kemudian meninggallah Tuan Guru Shidiq. Sebelum mengajarkan thariqah, sejak zaman penjajahan Belanda di Lombok, Tuan Guru Ma'mun selalu mengajarkan Al- Quran di setiap pagi sampai akhir hayatnya. Jumlah muridnya yang tinggal di asrama (kerbung) pada waktu itu mencapai dua ratus lima puluh orang.

Ma'arif semasa kecil tinggal bersama
keluarga tercintanya di Karang Lebah kurang lebih selama sembilan
tahun. Diceritakan oleh kakak beliau, Tuan Guru Haji Kholil dan
beberapa murid ayah beliau, bahwa pada waktu Ma’ arif masih bayi setiap
malam selalu ditemukan cahaya terang memenuhi kamar dalam rumah tempat
tinggal beliau. Terangnya cahaya tersebut bagaikan lampu pijar nan besar yang
menyala mengitari tubuh mungilnya. Kejadian ini berlangsung selama satu
tahun. Setelah itu, selama satu tahun berikutnya (tahun kedua), gelap
seperti biasa. Kejadian tersebut kembali terulang pada tahun
ketiga. Pada tahun ketiga tersebut muncul lagi terangnya seperti pada
tahun pertama sampai akhir tahun selama dua belas bulan. Setelah itu
kembali seperti biasa. Kejadian ini dilaporkan kepada ayahandanya, Tuan
Guru Haji Ma'mun. Jawabnya singkat saja : "Diam- diam saja!". Sebuah
jawaban yang menandakan beliau sudah mengetahui dan menyadari maknanya.
Di saat berada di rumah, beliau sering diajak oleh abahnya pergi ke luar kota dalam rangka menghadiri acara silaturrahmi, tasyakuran, dan lain sebagainya. Pernah terjadi pada suatu hari, beliau diajak menghadiri acara pemakaman salah seorang jama'ah yang meninggal dunia. Waktu itu ayahandanya dijemput dengan mobil. Setelah ayahandanya duduk berdampingan dengan supir, terlintas pikiran dalam hati Ma’arif yang mengatakan : "Sak mule yak paut jari ngiring abah jak dengan sak gagah- gagah no … " ( Bahasa Sasak, artinya : seharusnya yang pantas menemani abah adalah orang yang gagah- gagah itu). Seketika itu juga abah beliau, Tuan Guru Ma’mun berkata, "Apa kata hatimu ??? supaya saya ditemani oleh orang- orang gagah? …”. Lantas Ma’arif pun terdiam, dan barulah ia mengerti bahwa hal itulah yang dinamakan Khawash.
Setelah berusia sembilan tahun, beliau diantar ke Sekarbela - Mataram untuk mempelajari dasar-dasar ilmu Agama Islam bersama kakak tertuanya, Tuan Guru Haji Abdul Hamid (wafat 1947). Pada waktu itu Sekarbela masyhur disebut "Gubuk Ahli Ilmu" yaitu kampung yang dipadati oleh santri dan para ulama' terutama dalam ilmu ‘alat, seperti Nahwu, Shorof, dan lain- lain. Sehingga sering kita jumpai si Sekarbela saat itu orang yang sedang mencabut rumput di kebun ataupun di sawah sambil bernyanyi mendendangkan lagu "ja' a Zaidun, ja'a fi'l madhi ... dst".
Guru tempat beliau mengaji pada waktu itu antara lain Tuan Guru Haji Muhammad Rais bin Haji Muhammad Thaha Sekarbela (lahir tahun 1855 dan wafat 1967). Beliau ini adalah sahabat karib Tuan Guru Haji Ma' mun Karang Lebah Praya. Mereka sering saling kunjung mengunjungi guna bersilaturrahmi, dan sering kali pada waktu musim panen padi beliau datang kepada Tuan Guru Haji Muhammad Rais sambil mengantarkan zakat padi yang jumlahnya terkadang tidak kurang dari 1 ton. Bila Tuan Guru Haji Ma’mun ada halangan, beliau memerintahkan puteranya Haji Khalil untuk bersilaturrahmi sambil mengantarkan zakat langsung kepada Tuan Guru Haji Muhammad Rais. Hal ini dilakukannya untuk menyampaikan rasa mahabbah-nya yang sangat mendalam kepada Tuan Guru Haji Muhammad Rais, seorang ulama’ yang sangat alim lagi shalih.
Tuan Guru Haji Muhammad Rais adalah murid kesayangan dari Tuan Guru Haji Umar Kelayu (Syeikh Umar Kelayu), ayah dari Tuan Guru Haji Badrul Islam. Begitu juga halnya Ma’arif, beliau termasuk salah seorang murid kesayangan Tuan Guru Haji Muhammad Rais. Karena kedekatannya dengan gurunya maka beliau sering diajak bepergian pada malam hari untuk menghadiri acara selamatan atau acara silaturahmi keluar kampung, seperti ke gubuk Bage’ Polak dengan mengendarai cidomo (dokar). Dalam perjalanan, Tuan Guru Rais tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Melainkan hanya berdzikir ingat kepada Allah semata. Setibanya di rumah, tuan guru hanya menyapa dengan kata. “Ma’ arif, rani ente olek mesak?, (Ma’arif, beranikah kamu pulang sendiri?), “Inggih tuan guru” jawabnya dengan pelan dan hormat.
Sedangkan pengajian tuan guru yang dapat diikutinya adalah setiap malam yang dimulai setelah isya’ sampai jam 11 atau 12 malam. Saking lamanya pengajian, tidak jarang beliau ditinggalkan tidur sendiri oleh semua temannya sampai selesai pengajian. Hal ini disebabkan karena keadaan Ma’ arif dari sejak kecil sampai menjelang usia sembilan tahun kondisi kesehatannya sering terganggu akibat sakit- sakitan. Sebab itulah beliau waktu itu banyak tidur dan cepat mengantuk.
Adapun guru yang kedua yaitu Tuan Guru Haji Thaha Pasinggahan, bertempat di sebelah timur Sekabela. Pada awalnya beliau mengaji bersama puluhan temannya. Di dalam pengajian, tuan guru menggunakan metode tanya jawab. Bila ada murid yang salah dalam menjawab tuan guru langsung beteriak dengan suara lantang “Lebak lauk Praye atau Merang Lauk Praya?” (Kampung Lebak di selatan Praya atau Kampung Merang yang ada di selatan Praya?) dengan cacian seperti itu akhirnya semua temannya secara satu persatu menghilang tanpa kabar. Maka tinggallah Ma’ arif seorang diri sebagai murid kesayangan. Sekalipun Ma’arif tinggal sendiri, suara lantang sang guru tidak pernah surut. Bila sang murid menjawab pertanyaan tuan guru dengan benar maka dengan suara lantang tuan guru akan berkata “Babar muridku, sino muridku” (bagus, begitu muridku), pertanda beliau sangat senang dan gembira.
Dalam hal menghafal pelajaran Ma’ arif selalu dibimbing oleh Tuan Guru Haji Ibrahim Lomban Praya, selain karena pada waktu itu Tuan Guru Haji Ibrahim lebih alim dan umurnya lebih tua dari padanya, juga karena tempat tinggalnya sama-sama di dalam satu rumah. Selesai sholat shubuh beliau di tasmi’ (memperdengarkan hafalan) kitab Matan Jurumiyyah, Matan al Bina’, Matan al- ‘Azz, kepada Tuan Guru Haji Ibrahim. Ketika akan di-tasmi’ hafalan Matan Alfiyah, Ma’arif keburu pamit untuk pindah ke Pancor.
Di kemudian hari, Tuan Guru Haji Ibrahim disamping sebagai guru juga menjadi sahabat karib Ma’arif dalam mendidik anak- anak madrasah selama kurang lebih dua puluh tahun (Tuan Guru Ibrahim kelak kemudian menjadi besan beliau karena Ustadz Drs. Najamudin bin Ibrahim Lomban menikah dengan Siti Zahrah, putri sulung TGH. Najmuddin Makmun). Di madrasah, Tuan Guru Ibrahim tidak pernah lepas mengajarkan ilmu nahwu dan sharaf pada kelas- kelas terakhir. Alhamdulilah dengan keikhlasan dan ketekunannya banyak murid madrasah menjadi alim dalam ilmu ‘alat. Tuan Guru Haji Ibrahim sering berdoa agar ia dapat meninggal saat mengajar. Dan rupanya doa tersebut terkabulkan. Pada hari Rabu setelah dzhuhur, Tuan Guru Haji Ibrahim dipanggil oleh Allah dengan tenang dan selamat. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah Ta’ala. Amien.
Setelah kurang lebih dua tahun Ma’ arif belajar di Sekarbela, beliau mohon pamit kepada guru- gurunya guna melanjutkan belajar ke Pancor, Selong Lombok Timur. Dari Sekarbela, beliau langsung diantar ke Pancor bersama saudaranya Haji Abdul Hamid. Di Pancor, beliau diserahkan kepada Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dan kepada Tuan Guru Haji Muhammad Badrul Islam.
Oleh TGH. M. Zainuddin Abdul Majid, Ma’ arif dijadikan murid kesayangan. Karena itu Ma’ arif sering diajak bersilaturrahmi keluar kota oleh tuan guru kharismatik pendiri organisasi Nahdlatul Wathan tersebut. Setiap hari Kamis selalu diisi dengan pelajaran Khithobah atau pidato yang langsung dipimpin oleh tuan guru sendiri. Kala itu beliau beserta Ustadz Haji Abdul Warits dilatih berpidato dengan menampilkan syair-syair melayu. Pernah pada suatu hari, Ma’arif diutus ke Mataram dalam rangka menghadiri Mu’tamar Muhammadiyyah untuk mewakili tuan guru. Sebagai bahan yang akan disampaikan beliau disuruh menghafal dua belas lembar isi pidato yang disusun oleh tuan guru. Begitu hafal, Ma’arif langsung berangkat ke Mataram. Disana beliau menyampaikan pesan- pesan dari tuan guru. Setelah selesai, para hadirin terheran- heran dan bertanya- tanya siapakah gerangan anak kecil yang berpidato mewakili Tuan Guru tersebut. Setelah seseorang menjawab, barulah para hadirin mengerti kalau Ma’arif adalah murid Pancor yang berasal dari Praya.
Di dalam kesempatan lain beliau pergi mengaji kepada Tuan Guru Haji Badrul Islam. Rumah tuan guru terletak di sebelah utara masjid Pancor. Pengajian tuan guru di masjid Pancor ini sekali dalam seminggu biasanya pengajian dimulai sebelum Zhuhur. Dan setelah selesai dilanjutkan dengan acara minum teh atau kopi ditambah menikmati hidangan kue. Semua disiapkan oleh tuan guru. Jumlahnya hampir mencapai delapan porsi besar. Setelah selesai mengikuti pengajian tuan guru, Ma’ arif dan teman- temannya yang sepondok bangkit bertugas sebagai penjamu tamu. Di saat yang lain Ma’ arif sering dicari oleh tuan guru untuk memijat- mijatnya menjelang tuan guru tidur.
BELAJAR DI MEKKAH
Setelah kurang lebih enam bulan Ma’ arif belajar di Pancor, beliau berkirim surat kepada ayahandanya di Praya. Beliau memohon kepadanya agar dikirim belajar ke Mekkah al Mukarramah menyusul kakaknya Tuan Guru Haji Muhsin Makmun yang sudah dua tahun berada di Mekkah. Dan juga mumpung usianya masih belum baligh yang tentunya ongkos naik haji setengahnya biaya orang dewasa, yaitu empat puluh ringgit dan jika akan berangkat nanti setelah dewasa atau baligh tentu harus membayar delapan puluh Ringgit.
Setelah suratnya diterima oleh Ayahandanya, maka isi surat itu segera
dimusyawarahkan bersama seluruh keluarga. Ternyata semua keluarga
menyatakan setuju dan sangat mendukung. Akhirnya Ma’ arif mohon pamit
kepada tuan guru dan pada tahun itu juga beliau berangkat ke tanah suci
Makkah al Mukarramah kurang lebih enam bulan.
Setibanya di Mekkah, beliau mendaftarkan diri di Madrasah Darul Ulum. Disamping belajar di Madrasah, beliau sempat juga belajar di luar madrasah secara khusus. Seperti kepada Tuan Guru Haji Mukhtar Kediri yang waktu pengajiannya setiap selesai sholat Maghrib. Pengajian tuan guru ini tetap diikutinya sampai kurang lebih lima tahun (selama beliau berada di Mekkah).
Setelah beberapa bulan berada di Mekkah, beliau mendapat surat perintah dari Ayahandanya agar beliau bersama saudaranya, Haji Muhsin yang sudah lebih dari dua tahun berada di Mekkah pergi menerima ijazah Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah kepada Syaikh Idris Banten. Syaikh Idris Banten adalah salah seorang ulama’ tashawuf yang ahli qira’ah dan hafal Al-Quran dan termasuk penyebar Thariqah Qadiriyah wan Naqyabandiyah yang masuk ke Indonesia. Pada syaikh ini beliau belajar tajwid, membaca alquran (qira’ah), hifzh, dan berbagai hal tentang thariqah dan seluk beluk thariqah. Setelah dilihat kecerdasan dan ketekunannya oleh Syaikh, maka beliau diminta untuk datang belajar sendirian tanpa ditemani oleh siapapun. Saat- saat berduaan itulah beliau menerima banyak ilmu pengetahuan. Sesekali beliau dijadikan katib (sekretaris) pribadi oleh Syaikh Idris, di waktu lain beliau diajak berbincang- bincang membicarakan beberapa hal penting. Semua perintah guru dilaksanakan dengan penuh keikhlasan baik perintah guru yang di madrasah untuk menghafal dan me- muthola’ah kembali beberapa kitab maupun perintah guru yang di luar madrasah. Untuk itulah pada dua tahun pertama beliau mengurangi jam tidur menjadi dua jam setiap hari dan malam. Namun karena kesehatannya sedikit terganggu maka pada tiga tahun berikutnya beliau tidur sehari semalam hanya sekedar empat jam saja. Dan dari Syaikh Idris Banten inilah juga beliau mendapatkan banyak ijazah teruatama dalam hal ilmu dan amalan thariqah. Beliau belajar kepada Syaikh Idris kurang lebih lima tahun.
Setelah kurang lebih dua tahun beliau berada di Mekkah, barulah beliau mulai mengaji kepada Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al Fadani (Padang) wafat dan dimakamkan di Mekkah 1990 M. Salah seorang ulama’ hadits yang terkenal dengan gelar “Musnad ad- Dun-ya” atau ahli sanad sedunia. Oleh Syaikh Yasin beliau diajar sendirian di Masjidil Haram selama satu jam dari pukul sebelas sampai pukul dua belas malam. Begitulah halnya selama kurang lebih tiga tahun. Karena kedekatannya yang seperti itulah beliau dijadikan sebagai salah seorang murid kesayangan Syeikh. Sehingga dengan penuh kerelaan dan keikhlasan, Syaikh menumpahkan semua ilmunya baik yang secara langsung ataupun dengan ijazah khusus ataupun umum. Adapun ilmu- ilmu yang diterimanya itu semuanya serba kilat, tidak ada yang diucapkan dua kali. Itupun dengan kecepatan tinggi. Namun bagi beliau itu tidak jadi masalah yang jelas beliau selalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh Syaikh dan setelah pulang dari pengajian, sesampainya di rumah, barulah ditulis semua keterangan yang diterimanya tadi tanpa ada yang tertinggal sepatah pun.
Pada kesempatan lain, beliau juga belajar kepada beberapa guru. Antara lain kepada Syaikh Nuri Trenggano, Syaikh Abdul Karim Mandailing, Tuan Guru Haji Ibrahim Kediri, kurang lebih enam bulan dan di Mekkah juga beliau sangat akrab dengan Tuan Guru Haji Mushtafa Kediri, karenanya Tuan Guru Musthafa sering mengajaknya makan bersama keluarga di rumahnya, dan sering juga diajak bertamasya keluar kota seperti ke Tha’if. Beliau juga sering bertemu dengan Tuan Guru Haji Abdul Hamid Kediri yang acap kali mengajaknya makan ke rumahnya.
Pada tahun pertama setelah selesai mengerjakan ibadah haji, beliau
mengubah namanya yang semula bernama Ma’arif menjadi Haji Najmuddin.
Nama yang kedua inilah yang terkenal sampai sekarang.
Saat masih di Mekkah terjadilah perang dunia kedua (PD II), sehingga uang belanja sehari- hari tidak terkirim selama dua tahun. Meskipun penderitaan beliau pada waktu itu sudah hampir tidak tertahankan, namun alhamdulillah kegiatan belajar di madrasah maupun di luar madrasah tidak pernah tertinggalkan. Selalu ada bantuan dari Allah SWT.
KEMBALI KE TANAH AIR
Setelah dirasakan cukup lima tahun beliau berada di Mekkah, beliau pun
mohon diri pamit kepada semua gurunya. Dengan izinnya maka berangkatlah
beliau pulang tanpa membawa oleh-oleh barang berharga sedikitpun.
Sambil menunggu kedatangan kapal laut MAI (Majlis al-A’la al-Islamiyah Indonesia) di
Jeddah, beliau menginap di Jeddah bersama empat belas orang temannya
dari Lombok yang akan berangkat juga. Salah seorang diantaranya bernama
Haji Lalu Manshur dari Sakra Lombok Timur. Setibanya kapal, maka tidak
lama kemudian para penumpang menaiki kapal. Diantara mereka terdapat
pula Kyai Haji Anwar Musyaddad dari Jawa Barat.
Di dalam kapal, Haji Muhammad Najmuddin bergabung dengan Haji Manshur
yang kebetulan pulang bersama isterinya dan seorang anaknya yang
berumur dua tahun yang sedang sakit. Di sini beliau membantu Haji
Manshur merawat dan menjaga puteranya yang sedang sakit yang berada
dalam ruang opname rumah sakit kapal. Beliau menyuapinya makan,
memberinya minum, menyiapkan obat yang akan diminum, dan selalu berada
di sisinya setiap hari dan malam. Tetapi ajal tidak dapat ditolak.
Akhirnya sang anak meninggal dunia di dalam kapal di tengah perjalanan
menuju Indonesia.
Pada saat Haji Manshur masih dirundung kesedihan itu, beliau
dihadiahkan olehnya selembar kain sarung yang sudah dipakainya
(setengah baru) sebagai ucapan rasa terimakasihnya atas bantuan yang
diberikan kepadanya. Setelah empat puluh hari berada di dalam kapal,
sampailah beliau di Pelabuhan Jakarta. Dan di Jakarta kapal
istirahat kurang lebih lima belas hari. Setelah itu kapal
diberangkatkan menuju Pelabuhan Ampenan, Lombok.
Kapal berlabuh di pelabuhan Ampenan pada waktu maghrib. Semua penumpang
kapal segera turun dengan disambut oleh masing- masing keluarga kecuali
keluarga beliau sendiri. Maka tinggallah beliau seorang diri tanpa ada
seorang pun yang menjemputnya. Dalam perasaan sedih seperti itu,
perlahan- lahan beliau pergi meninggalkan pelabuhan Ampenan dengan
menumpang dokar menuju arah timur sambil berfikir kampung mana yang
harus dituju. Maka terlintas dalam benak beliau Karangkelok adalah
kampung yang pernah dikunjunginya dua kali, sewaktu beliau mondok di Sekarbela. Akhirnya beliau memutuskan diri untuk pergi ke
Karangkelok malam itu juga, sekalipun waktu itu langit sangat gelap dan
bergerimis. Setibanya di Karangkelok beliau diturunkan dari dokar tersebut
lalu berteduh di bawah pepohonan bambu di pinggir sungai sambil
menunggu orang lewat tempat bertanya. Tidak lama kemudian lewatlah
seorang pengendara sepeda. Kepadanya beliau bertanya “dimanakah letak
masjid KarangKelok?”. Si pengendara sepeda balik bertanya, “Eleq embe
side?” (dari manakah anda ini?). “Saya datang dari Mekkah”, jawabnya
polos. “Oh… dari kapal yang berlabuh datang tadi?”, tanyanya lagi.
“Ya”, jawab beliau. Lalu beliau diantar langsung ke masjid Karangkelok
oleh si pengendara sepeda.
Setibanya di Karangkelok, kurang lebih pukul sepuluh malam beliau
langsung masuk ke dalam masjid. Waktu itu jamaah masjid sedang
mengadakan acara serakalan (membaca barzanji). Setelah selesai acara,
para hadirin saling bertanya, siapakah pemuda baru ini? Salah seorang
dari mereka memberanikan diri bertanya langsung kepada beliau,
“Siapakah anda ini dan dari mana asalmu?”. “Dari Praya”, jawabnya.
“Apakah rumahmu berdekatan dengan Tuan Guru Haji Ma’mun?”, tanya
mereka lagi. “Dekat, dekat sekali”, jawabnya. “Bukankah Anda yang
bernama Ma’ arif?”. Karena dalam keadaan terdesak dengan jujur beliau
menjawab: “Iya, saya Ma’ arif”. Lantas semua jamaah menjadi tercengang
keheranan. Dan setelah mereka sadar bahwa Ma’ arif baru saja datang
dari Mekkah, maka dengan tergopoh- gopoh beliau dihidangkan makanan
istimewa pertanda bahwa warga Karangkelok ikut bergembira dan bersyukur
atas kehadiran beliau.
Kemudian esok harinya beliau diantar pulang ke Karang lebah Praya.
Setibanya di Karang Lebah beliau disambut oleh keluarga dengan perasaan
terharu serta bingung sebab dua hari sebelumnya mereka pernah
menjemputnya ke pelabuhan Ampenan, namun kapal yang ditunggu tidak
kunjung tiba. Akhirnya mereka sepakat untuk pulang sambil menunggu
kabar kepastian kapal yang datang berikutnya.
Setibanya di tanah air, beberapa bulan kemudian beliau pergi mengaji
lagi kepada Tuan Guru Mushtafa di Kediri, Lombok Barat. Kepadanya beliau mengaji kurang lebih
selama tiga bulan. Disamping itu beliau mohon izin kepada abahnya, TGH. Makmun,
untuk mengaji lagi kepada Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid Pancor.
Namun, ayahandanya menjawab :” keberkahan ilmu itu tidak saja datang
sewaktu kita bersama guru, namun bisa saja datang setelah kita berpisah
yakni berada jauh dari tempat sang guru. Karena itu tetaplah kamu
disini. Bimbinglah santri yang sudah banyak itu … ”. Mendengar
jawaban ayahandanya itu maka beliau memutuskan untuk tinggal bersama
keluarga di Karang Lebah Praya. Mulailah beliau melanjtkan perjuangan
yang telah dirintis oleh saudara tuanya Tuan Guru Haji Abdul Hamid
beserta ayahandanya, Tuan Guru Haji Ma’mun. Pada awal mula beliau
memberikan pengajian di rumah kediamannya. Kemudian pengikut pengajian
semakin lama semakin banyak sampai tidak dapat tertampung di satu
rumah. Lalu beliau meminjam rumah keluarga sebagai tambahan tempat
pengajian. Melihat keadaan seperti itu akhirnya beliau berhasrat
membangun sebuah gedung madrasah. Alhamdulillah dengan izin Allah
tepatnya tahun 1943 Miladiyyah, berdirilah dengan resmi sebuah gedung
madrasah yang bernama “Nurul Yaqien” (Cahaya Keyakinan) sebagai satu-
satunya madrasah yang terdapat di Lombok Tengah waktu itu.
MENUNAIKAN HAJI LAGI
MENUNAIKAN HAJI LAGI
Bebarapa tahun kemudian pada tahun 1970 beliau berangkat lagi
menunaikan ibadah haji. Kali ini beliau bertemu lagi dengan gurunya
Syekh Muhammad Yasin bin ‘Isa al- Fadani. Di saat itu beliau
diijazahkan lagi beberapa ilmu dan kitab. Hal ini disebabkan kedekatan
dengan gurunya yang selalu terjalin sekalipun berbeda tempat tinggal
karena selalu diikat dengan jalinan surat menyurat. “Al- Murosalah
Nishful Muwajahah”, demikian nasihat yang sering diucapkannya.
Pada kesempatan kali ini pula beliau pergi bersilaturrahmi dengan
Syaikh Muhammad Hassan al- Masysyath bersama Tuan Guru Haji Muhammad
Zainuddin Abdul Majid Pancor, Tuan Guru Haji Afifuddin ‘Adnan, Tuan Guru Yusuf, dan lain-
lain. Ketika itu beliau diijazahkan beberapa kitab dan amalan Thariqah
Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah agar tetap mengenakan pakaian jubah.
Hingga kini, beliau senantiasa berpakaian jubah baik saat shalat
ataupun dalam kesehariannya.
Sekembalinya dari tanah suci, beliau langsung menuju rumah barunya di
Pondok Pesantren Darul Muhajirin, 1 KM arah barat Karang Lebah. Pondok
Pesantren ini didirikan di atas tanas seluas 3,5 ha. Tanah ini
merupakan hadiah dari Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah pada waktu
itu yang dipimpin oleh Bupati Drs. H. Lalu Srigede. Di atas tanah inilah
dibangun beberapa buah gedung madrasah yang dapat terlihat sampai sekarang.
Namun sebelum gedung baru ini ditempati, kegiatan belajar mengajar
ditampung di komplek Madrasah Ibtidaiyyah Tengari pimpinan Ustadz Haji
Muhammad Syafi’ie (sekarang terkenal dengan TK Wakaf Tengari) lebih kurang 350 meter arah timur laut dari Darul
Muhajirin.
Pondok Pesantren Darul Muhajirin adalah kelanjutan dari Madrasah Nurul
Yaqien Karang Lebah. Karena kondisi waktu itu tidak memungkinkan untuk
mengembangkan Madrasah Nurul Yaqien secara lebih leluasa maka beliau
memutuskan untuk pindah ke Pondok Pesantren Darul Muhajirin. Di pondok
inilah beliau berkhidmat bersama semua keluarga dan semua jama’ahnya
sampai sekarang.



Visitors :10809 Org
Hits : 89803 hits
Month : 591 Users